BUDIDAYA TIRAM MUTIARA PDF

Kultur murni Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard Conway. Pemeliharaan plankton pada skala laboratorium dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kualitas stok. Untuk kultur murni dapat digunakan cawan Petri dengan media agar. Setelah berbentuk koloni, diamati dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminsi dengan jenis lain atau tidak.

Author:Akicage Morn
Country:Lithuania
Language:English (Spanish)
Genre:Medical
Published (Last):9 May 2018
Pages:62
PDF File Size:17.2 Mb
ePub File Size:20.76 Mb
ISBN:231-2-27782-991-8
Downloads:97983
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Meztilrajas



Kultur murni Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard Conway. Pemeliharaan plankton pada skala laboratorium dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kualitas stok. Untuk kultur murni dapat digunakan cawan Petri dengan media agar. Setelah berbentuk koloni, diamati dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminsi dengan jenis lain atau tidak.

Jika masih terkontaminasi maka harus dilakukan pemurnian ulang sehingga didapatkan koloni satu spesies atau jenis Phytoplankton yang diinginkan selanjutnya, dilakukan pemindahan untuk di ukur dalam tabung reaksi dengan menggunakan tabung reaksi Ose. Inokulum di dalam tabung reaksi dapat diperbanyak secara bertahap sampai mencapai pertumbuhan puncak blooming. Mulai dipelihara cc, kemudian diperbanyak lagi ke cc, cc, cc dan cc. Lama pemeliharaan tergantung pada jenis dan tingkat kepadatan inokulum.

Jika tujuan kultur untuk stok dan mempertahankan kemurnian, dapat dilakukan kultur tanpa pengudaraan selama bulan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pemeliharaan berikut masih dalam skala laboratorium pada volume liter dengan waktu pemeliharaan hari untuk Isocrysis galbana hari untuk Chaetoceros sedangkan untuk Pavlova lutheri sama dengan Isocrysis galbana. Kultur skala laboratorium ini dimaksudkan untuk menyediakan inokulum untuk pembenihan skala semi-masal atau skala liter.

Kultur semi masal Pada prinsipnya kultur semi masal dan masal sama dengan kultur dalam skala laboratorium, hanya volumenya lebih besar. Untuk kultur semi masal dan masal, air laut yang digunakan cukup disaring dengan kantong saringan mikron. Setelah media air laut disiapkan pupuk dimasukan kemudian diaduk secara merata atau diberi pengudaraan. Setelah itu, bibit dimasukan ke dalam media. Untuk jenis Isocrysis galbana dan Pavlova luthery yang dipelihara dalam skala laboratorium dan semi masal akan capai kepadatan optimum setelah hari.

Kepadatan plankto yang baik diberikan sebagai pakan, biasanya pada fase pertumbuhan optimum, awal fase pertumbuhan tetap, atau setelah mencapai kepadatan optimum. Untuk mengetahui setiap fase pertumbuhan tersebut perlu dilakukan pengamatan setiap hari, caranya dengan pengambilan sample dan dapat dihitung kepadatannya dengan menggunakan haemocytometer. Berikut ini adalah kepadatan optimum beberapa jenis plankton : a. Chaetoceros sp.

Pada kultur skala masal, kepadatan maksimum akan dicapai setelah hari. Menurut Isnasetyo dan Kurniastuti , pemanenan phytoplankton harus dilakukan setelah pada saat puncak populasi, sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organisme pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak pemeliharaan larva. Apabila pemanenan terlambat maka telah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya menurun. Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan 3 cara yaitu sebagai berkut : Penyaringan dengan plankton net.

Pemanenan dengan memindahkan langsung bersama media kultur. Cara pengendapan menggunakan bahan kimia, seperti : Sodium hidroksida dan NaOH. Penyimpanan bibit murni Guna untuk kesinambungan kultur phytoplankton maka perlu dilakukan pemeliharaan stok bibit murni. Kultur tidak perlu diberi aerasi karena hanya menjadi sumber kontaminasi. Kultur phytoplankton dapat di pelihara dengan beberapa cara sebagai berikut Disimpan dalam media agar pada cawan Petri.

Disimpan pada media agar miring pada tabung reaksi. Disimpan dalam media cair pada tabung reaksi. Disimpan dalam media cair pada Erlenmeyer. Penyimpanan stok bibit murni dalam media agar dapat bertahan sampai 6 bulan. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari.

Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kulkas dengan pencahayaan lampu TL. Penyimpanan stok murni dalam kulkas dapat bertahan selama 1 bulan dan sebiknya segra digunakan dan diganti dengan stok baru.

Kendala yang umum ditemukan dalam kultur phytoplankton adalah kontaminasi oleh mikroorganisme lain seperti : Protozoa, bakteri, dan jenis phytoplankton lainnya. Kontaminasi ini dapat bersumber dari medium air laut, pupuk, udara atau aerasi, wadah kultur serta inokulum E.

Pemeliharaan Larva Pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis Winanto, Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga masa krisis. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo, terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam eye spot atau fase pedifeliger.

Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis spatfal menjadi spat yang hidupnya menetap sesil bentik di dasar. Larva tiram lebih menyukai tempat yang gelap atau remang-remang daripada yang terang, untuk itu tempat pemeliharaan di tutup dengan plastik gelap. Lokasi Usaha Ketepatan pemilihan lokasi merupakan salah satu syarat keberhasilan budidaya tiram mutiara.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya, yaitu : 1. Faktor Ekologi Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram, diantaranya kualitas air, pakan, dan kondisi fisiologis organisme.

Batasan faktor ekologi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi lokasi budidaya adalah : a. Lokasi Lokasi usaha untuk budidaya tiram mutiara ini berada di perairan laut yang tenang.

Pemilihan lokasi pembenihan maupun budidaya berada dekat pantai dan terlindung dari pengaruh angin musim dan tidak terdapat gelombang besar.

Lokasi dengan arus tenang dan gelombang kecil dibutuhkan untuk menghindari kekeruhan air dan stress fisiologis yang akan mengganggu kerang mutiara, terutama induk. Dasar Dasar perairan sebaiknya dipilih yang berkarang dan berpasir. Lokasi yang terdapat pecahan-pecahan karang juga merupakan alternatif tempat yang sesuai untuk melakukan budidaya tiram mutiara. Arus Arus tenang merupakan tempat yang paling baik, hal ini bertujuan untuk menghindari teraduknya pasir perairan yang masuk ke dalam tiram dan mengganggu kualitas mutiara yang dihasilkan.

Pasang surut air juga perlu diperhatikan karena pasang surut air laut dapat menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari kemungkinan adanya limbah dan pencemaran lain.

Salinitas Dilihat dari habitatnya, tiram mutiara lebih menyukai hidup pada salinitas yang tinggi. Tiram mutiara dapat hidup pada salinitas 24 ppt dan 50 ppt untuk jangka waktu yang pendek, yaitu hari.

Pemilihan lokasi sebaiknya di perairan yang memiliki salinitas antara ppt. Kondisi ini baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram mutiara. Suhu Perubahan suhu memegang peranan penting dalam aktivitas biofisiologi tiram di dalam air. Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram mutiara adalah berkisar 0C. Suhu air pada kisaran 27 — 31 0C juga dianggap layak untuk tiram mutiara. Kecerahan Kecerahan air akan berpengaruh pada fungsi dan struktur invertebrata dalam air.

Lama penyinaran akan berpengaruh pada proses pembukaan dan penutupan cangkang Winanto, et. Cangkang tiram akan terbuka sedikit apabila ada cahaya dan terbuka lebar apabila keadaan gelap.

Menurut Sutaman , untuk pemeliharaan tiram mutiara sebaiknya kecerahan air antara 4,,5 meter. Jika kisaran melebihi batas tersebut, maka proses pemeliharaan akan sulit dilakukan. Untuk kenyamanan, induk tiram harus dipelihara di kedalaman melebihi tingkat kecerahan yang ada.

Pada prinsipnya, habitat tiram mutiara di perairan adalah dengan pH lebih tinggi dari 6, Tiram tidak akan dapat berproduksi lagi apabila pH melebihi 9, Aktivitas tiram akan meningkat pada pH 6,75 — pH 7,00 dan menurun pada pH 4,,5. Oksigen Oksigen terlarut dapat menjadi faktor pembatas kelangsungan hidup dan perkembangannya. Tiram mutiara akan dapat hidup baik pada perairan dengan kandungan oksigen terlarut berkisar 5,,6 ppm.

Pada kisaran yang lebih tinggi dari angka tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan akhirnya mengakibatkan kematian pada organisme. Pemilihan lokasi juga harus terhindar dari polusi dan pencemaran air, misalnya pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan limbah industri. Pencemaran air akan mengakibatkan kematian, baik spat maupun induk tiram mutiara. Selain itu kegiatan mulai dari pembenihan sampai dengan budidaya induk tiram dapat dipilih lokasi di sekitar pantai yang berdekatan dengan lokasi tempat tinggal pengelola usaha budidaya.

Hal ini untuk kemudahan dalam pengangkutan dan pemindahan induk tiram mutiara, sehingga mengurangi risiko kerugian akibat kematian. Faktor Risiko a.

Pencemaran Lokasi budidaya tiram mutiara harus berada di lokasi yang bebas dari pencemaran, misalnya limbah rumah tangga, pertanian, maupun industri. Limbah rumah tangga dapat berupa deterjen, zat padat, berbagai zat beracun, dan patogen yang menghasilkan berbagai zat beracun.

Pencemaran yang berasal dari kegiatan pertanian berupa kotoran hewan, insektisida, dan herbisida akan membahayakan kelangsungan hidup tiram mutiara. Manusia Pencurian dan sabotase merupakan faktor yang juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi budidaya mutiara.

Risiko ini terutama pada saat akan panen atau setelah satu tahun penyuntikan inti mutiara bulat nucleus. Metode Pemeliharaan Tiram Mutiara Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan hanging culture method , pada prinsipnya metode ini terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan.

Metode pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu, metode rakit terapung floating raft method dan metode tali rentang long line method. Metode Rakit Apung floating raft method Rakit apung selain berfungsi sebagai pemeliharaan induk, pendederan, dan pembesaran, juga berfungsi sebagai aklimatisasi beradaptasi induk pasca pengangkutan. Menurut Priyono , pemeliharaan mutiara umumnya dilakukan dengan metode rakit apung.

Cara ini banyak digunakan karena lebih mudah dalam pengawasan serta hasilnya lebih baik dari pada cara pemeliharaan dasar botton culture method. Bahan utama metode ini adalah kayu rakit kayu atau bambu , pelampung drum minyak, fiber glass, styrofoam , tali-tali dan jangkar Mulyanto, Tali rentang yang digunakan adalah dari bahan polyethelen atau sejenisnya dipasang diantara tali yang satu dengan yang lainnya yang diberi jarak 5 meter dan panjang tali rentang tergantung dari luas budidaya.

Metode tali rentang dapat diterapkan pada perairan yang dasarnya agak dalam atau dasar perairan agak keras. Teknis Budidaya Tiram Mutiara Pinctada maxima Pada prinsipnya, untuk dalam keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti, saat pelaksanaan operasi, pasca operasi dan ketrampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai.

Pada umumnya tiram mutiara yang akan dioperasi inti mutiara bundar berasal dari hasil penangkapan dialam yang dikumpulkan dari kolektor dan nelayan. Namun ukuran cangkang mutiara terdiri dari macam-macam ukuran yang nantinya disortir menurut ukuran besarnya mutiara, hal inilah yang menjadi penyebab sehingga tidak dapat melaksanakan operasi dalam jumlah yang banyak.

Sedangkan hasil pembenihan dari hatchery dapat diperoleh ukuran yang relatif seragam ukurannya sehingga dapat dilakukan operasi pemasangan inti mutiara dalam jumlah yang banyak.

Namun produksi benih belum dapat dikembangkan secara masal.

KUYPER SPHERE SOVEREIGNTY PDF

Cara Budidaya Kerang Mutiara Bisnis Yang Menguntungkan

Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Pinterest Kerang mutiara merupakan hewan laut yang bertubuh lunak, tidak bertulang punggung dan dilindungi oleh dua belah keping cangkang yang tidak simetris, tebal dan sangat keras. Bentuk luar kerang mutiara tampak seperti batu karang yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Sejak Zaman dahulu, Manusia sudah dapat menyelam dikedalaman lautan dan salah satu hasil laut yang paling diminati selain ikan dan rumput, hasil laut yang lainnya adalah Mutiara. Mutiara sendiri telah dihargai sebagai barang yang sangat langka dan menjadi batu perhiasan yang prestisius. Mutiara adalah salah satu perhiasan yang paling dicari di dunia keselarasan yang sempurna dengan alam. Bahkan mutiara dulunya hanya digunakan oleh kaum bangsawan sebagai simbol kekuasaan, kekayaan dan keanggunan.

LA CARRIOLA DI PIRANDELLO PDF

MAKALAH BUDIDAYA TIRAM MUTIARA

Ciri-ciri dan Aspek Biologi 1. Ciri fisik Kerang mutiara mempunyai sepasang cangkang yang disatukan pada bagian punggung dengan engsel. Kedua belahan cangkang tidak sama bentuknya. Sisi sebelah dalam dari cangkang nacre berpenampilan mengilap. Pemijahan sering terjadi akibat perubahan suhu yang ekstrem atau tejadi perubahan lingkungan yang tiba-tiba.

CISCO AIRONET 1130AG MANUAL PDF

Harga mutiara di pasaran sangat mahal, oleh karena itu saat ini banyak orang yang mencoba mengembangkan budidaya kerang mutiara. Mutiara dihasilkan oleh kerang dan tersimpan di antara dua cangkang keras yang berfungsi sebagai pelindung bagi hewan tersebut. Cangkang yang sangat keras tersebut terbentuk dari zat kapur yang berasal dari epithel luar. Bentuk dari cangkang tersebut tidak simetris dan memiliki pola garis-garis. Proses Pembentukan Mutiara Proses pembentukan mutiara di dalam kerang sebenarnya diawali dengan masuknya irritant yang berupa benda padat ke dalam cangkang dan mantel kerang mutiara. Menurut beberapa sumber, irritant yang dimaksud yaitu bisa berupa pasir laut ataupun benda-benda padat lainnya.

EINREICHPLAN MUSTER PDF

Di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. Mahrup Kaseh sejak tahun

Related Articles